“Kami terus menjaga keberlangsungan pemeliharaan seluruh peralatan meteorologi agar layanan informasi cuaca penerbangan tetap andal, akurat, dan mampu mendukung keselamatan transportasi udara nasional,”
TANGERANG, FBN.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI di Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Jumat (10/7). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka meninjau fasilitas pendukung layanan informasi cuaca penerbangan sekaligus memperkuat pemahaman terhadap peran BMKG dalam menjamin keselamatan, keamanan, dan kelancaran operasional transportasi udara nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyampaikan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta merupakan salah satu stasiun meteorologi penerbangan paling lengkap di Indonesia yang berstatus sebagai Meteorological Watch Office (MWO). Stasiun ini didukung oleh pegawai BMKG yang bertugas memberikan layanan meteorologi secara berkesinambungan guna mendukung operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
“Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta merupakan stasiun meteorologi yang sangat lengkap. Sebagai Meteorological Watch Office, stasiun ini memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung keselamatan penerbangan melalui penyediaan informasi cuaca yang akurat, cepat, dan berkesinambungan,” ujar Guswanto.
Ia menjelaskan, BMKG memiliki peran vital dalam sistem layanan meteorologi penerbangan nasional melalui penyediaan berbagai informasi cuaca yang dibutuhkan oleh dunia aviasi, mulai dari Aerodrome dan Trend Forecast, Aerodrome dan Wind Shear Warning, serta SIGMET untuk fenomena cuaca signifikan (Thunderstorm, Turbulence, dan Icing), siklon tropis, hingga informasi abu vulkanik. Informasi tersebut menjadi acuan bagi maskapai penerbangan, penyelenggara navigasi penerbangan, operator bandar udara, layanan pencarian dan pertolongan, hingga masyarakat di sekitar kawasan bandara.
Dalam paparannya, Guswanto juga menjelaskan bahwa wilayah pelayanan Meteorological Watch Office Jakarta mencakup Flight Information Region (FIR) Barat Indonesia yang meliputi sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan Barat, serta sebagian Pulau Jawa. Berbagai informasi meteorologi yang diterbitkan dari Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta didistribusikan kepada pengguna jasa penerbangan di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, kepadatan operasional Bandara Soekarno-Hatta menjadikan keandalan informasi meteorologi sebagai kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Sepanjang tahun 2025, bandara ini melayani sekitar 1.100 pergerakan pesawat setiap hari, atau rata-rata satu pergerakan pesawat setiap 1,3 menit. Kondisi tersebut menuntut layanan informasi cuaca yang tersedia secara real-time selama 24 jam tanpa henti.
Untuk mendukung layanan tersebut, BMKG mengoperasikan alat operasional utama (aloptama), antara lain Automatic Weather Observing System (AWOS) Kategori III di tiga landasan pacu, Terminal Doppler Weather Radar (TDWR), LIDAR, Low Level Wind Shear Alert System (LLWAS), Wind Profiler, Radar Cuaca C-Band, citra satelit cuaca, hingga dukungan pemodelan cuaca numerik. Seluruh data hasil pengamatan diintegrasikan secara otomatis ke ruang observasi dan ruang prakiraan cuaca sebelum didiseminasikan kepada pemangku kepentingan penerbangan.
Sebagai perwakilan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI, Dr. Edi Purwanto, menyampaikan apresiasi atas sambutan BMKG serta kinerja Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta dalam mendukung keselamatan penerbangan nasional. Menurutnya, kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kesiapan fasilitas pendukung layanan informasi cuaca pada bandara tersibuk di Indonesia sekaligus memperdalam pemahaman mengenai kebutuhan penguatan layanan meteorologi penerbangan.
“Kunjungan kerja spesifik ini kami lakukan untuk meninjau secara langsung fasilitas pendukung layanan informasi cuaca di Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta. Sebagai bandara tersibuk di Indonesia dan pintu gerbang utama penerbangan internasional, ketersediaan informasi meteorologi yang akurat, tepat waktu, dan andal merupakan fondasi utama bagi keselamatan, keamanan, dan efisiensi penerbangan,” ujar Edi.
Ia menilai BMKG telah menunjukkan kinerja yang baik dalam penyelenggaraan layanan meteorologi penerbangan. Hal tersebut, menurutnya, tercermin dari capaian Operational Meteorological (OPMET) Index Indonesia yang telah melampaui angka 0,95, menunjukkan kualitas layanan yang mendekati standar optimal.
“Komisi V DPR RI memandang BMKG sebagai pemangku kepentingan utama dalam ekosistem meteorologi penerbangan. Kami mengapresiasi capaian BMKG, salah satunya tercermin dari nilai OPMET Indonesia yang melampaui angka 0,95. Ini menunjukkan kualitas layanan yang sangat baik,” katanya.
Menurutnya, tanggung jawab tersebut harus didukung dengan keandalan infrastruktur dan teknologi observasi yang selalu terpelihara.
“Fungsi Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta sangat strategis karena tidak hanya melayani kebutuhan bandara, tetapi juga mengawasi sebagian besar ruang udara Indonesia. Oleh karena itu, kami berharap berbagai peralatan utama seperti Terminal Doppler Weather Radar (TDWR), Automatic Weather Observing System (AWOS) Kategori III, radar cuaca, maupun sistem radiosonde senantiasa terpelihara dan terkalibrasi dengan baik,” ungkapnya.
Menutup sambutannya, Edi berharap layanan meteorologi penerbangan Indonesia terus ditingkatkan agar tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin besar bagi keselamatan transportasi udara dan pembangunan ekonomi nasional.
“Kami berharap layanan meteorologi penerbangan Indonesia ke depan tidak hanya memenuhi standar internasional, tetapi juga semakin memberikan manfaat nyata bagi keselamatan penerbangan serta mendukung pertumbuhan perekonomian nasional,” tutupnya.
Selain menyampaikan paparan mengenai sistem layanan meteorologi penerbangan, BMKG juga memperlihatkan secara langsung alur pengamatan, pengolahan, hingga penyebarluasan informasi cuaca kepada rombongan Komisi V DPR RI. Delegasi meninjau fasilitas ruang operasional dan berbagai perangkat utama yang digunakan dalam mendukung operasional meteorologi penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Guswanto menegaskan bahwa keandalan infrastruktur meteorologi penerbangan memerlukan dukungan pemeliharaan yang berkelanjutan agar seluruh sistem tetap beroperasi optimal dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
“Kami terus menjaga keberlangsungan pemeliharaan seluruh peralatan meteorologi agar layanan informasi cuaca penerbangan tetap andal, akurat, dan mampu mendukung keselamatan transportasi udara nasional,” ujarnya.
Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antara legislatif dan BMKG dalam mendukung peningkatan kualitas layanan meteorologi penerbangan nasional, khususnya melalui penguatan infrastruktur, teknologi observasi, serta keberlanjutan layanan informasi cuaca yang menjadi bagian penting dalam sistem keselamatan penerbangan Indonesia.
Sumber : bmkg.go.id













