360 Pengasuh Pesantren Ikuti Workshop Transformasi di Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

oleh -1 Dilihat
oleh

“Transformasi bukan sekadar memperbaiki sebagian sistem pendidikan, melainkan melakukan perubahan mendasar agar pesantren mampu menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global,”

CIREBON, FBN. COM – Bagaimana cara pesantren mampu mengantarkan santrinya kuliah di kampus terbaik dunia? Pertanyaan itu menjadi fokus utama dalam Workshop Pengasuh Pondok Pesantren Angkatan VII yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Kabupaten Cirebon.

Selama lebih dari 14 jam, sejak pukul 08.00 hingga 22.30 WIB pada Senin, (13/7/2026), sebanyak 360 pengasuh pondok pesantren dari Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti seluruh rangkaian materi tanpa meninggalkan lokasi.

Antusiasme peserta tetap tinggi hingga sesi terakhir yang dipandu langsung oleh KH Imam Jazuli, Lc., M.A., atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Imjaz.

Workshop tersebut merupakan bagian dari gerakan nasional transformasi pesantren yang digagas Imam Jazuli Foundation (IJF), dengan tujuan memperkuat kualitas lulusan pesantren agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Ketua Panitia, Ubaydillah Anwar, mengatakan kegiatan ini merupakan angkatan ketujuh dari rangkaian workshop yang menyasar ribuan pengasuh pondok pesantren di seluruh Indonesia.

“Hingga saat ini, lebih dari 2.800 pengasuh pesantren telah mengikuti workshop ini atau sekitar 55 persen dari target 5.000 peserta. Mereka berasal dari pesantren yang memiliki antara 100 hingga 3.000 santri,” ujarnya.

Menurut Ubaydillah, peserta sebelumnya berasal dari Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung. Adapun pelaksanaan berikutnya akan melibatkan pengasuh pesantren dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua yang dijadwalkan berlangsung mulai pekan depan sampai Agustus 2026.

Pengalaman Mengantar Santri Kuliah di 16 Negara

Pada sesi puncak, Kiai Imam Jazuli memaparkan secara terbuka strategi, pola pembinaan, hingga langkah-langkah praktis yang selama ini diterapkan di Pesantren Bina Insan Mulia dalam mengantarkan santri memperoleh beasiswa luar negeri dan diterima di perguruan tinggi negeri terbaik.

Menurutnya, pengalaman nyata merupakan bukti bahwa pesantren memiliki peluang besar melahirkan sumber daya manusia berkelas dunia.

“Dari pengalaman Bina Insan Mulia menghantarkan sekitar 70 persen lulusan ke 16 negara di dunia dan 30 persen ke perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia, ada banyak pengalaman yang bisa saya bagikan kepada para pengasuh pesantren,” kata Kiai Imam Jazuli.

Negara tujuan para alumni tersebut tersebar di Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga kawasan lainnya melalui berbagai program beasiswa internasional.

Keberhasilan Pesantren Harus Diukur dari Lulusannya

Kiai Imam Jazuli menegaskan bahwa transformasi pesantren harus dimulai dari perubahan cara pandang terhadap keberhasilan lembaga pendidikan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan bukan lagi sekadar jumlah santri yang belajar, tetapi kualitas lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Output pesantren harus jelas dan dapat dibuktikan. Ketika output-nya berkualitas, kepercayaan masyarakat akan meningkat. Hari ini masyarakat bertanya, lulusan pesantren ini bisa melanjutkan kuliah ke mana saja,” ujarnya.

Ia menilai perubahan ekspektasi masyarakat harus dijawab dengan peningkatan mutu pendidikan di lingkungan pesantren.

Jangan Semua Santri Masuk Jurusan Agama

Dalam paparannya, Kiai Imjaz juga menyampaikan pandangan yang cukup menarik mengenai arah pendidikan santri.

Ia mengingatkan agar para pengasuh pesantren tidak mengarahkan seluruh santri hanya menjadi ustaz atau kiai.

“Janganlah pengasuh pesantren mendorong semua santrinya menjadi ustaz atau kiai seperti dirinya, kemudian semuanya masuk jurusan keagamaan. Boleh, tetapi maksimal lima sampai sepuluh persen. Jangan semuanya. Ini bahaya,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak lulusan pesantren yang menjadi dokter, insinyur, ahli teknologi digital, pakar kecerdasan buatan, ahli pertambangan, peneliti, hingga pakar teknologi pertahanan.

“Santri harus hadir di berbagai sektor strategis bangsa. Mereka harus mampu menjadi pemimpin, ilmuwan, profesional, dan pengambil kebijakan tanpa kehilangan identitas keislamannya,” ujarnya.

Pesantren Harus Menjadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

Kiai Imam Jazuli menambahkan, pendidikan pesantren seharusnya menjadi instrumen yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidup para santri.

Ia menilai pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan lulusan yang mampu mengubah kondisi ekonomi keluarga dan masyarakat.

“Jangan sampai lulusan pesantren hanya menempati posisi marjinal dalam pembangunan sehingga kurang memberi dampak bagi perubahan Indonesia. Lebih celaka lagi jika pesantren tidak mampu mengubah kemiskinan para alumninya,” katanya.

Karena itu, menurutnya, keberanian para kiai menjadi faktor utama dalam melakukan perubahan.

“Strategi, tips, dan triknya sudah saya paparkan semuanya. Tinggal satu yang dibutuhkan untuk melakukan transformasi, yaitu nyali dan keberanian para kiai,” ujar Kiai Imjaz.

Peserta Mengaku Mendapat Wawasan Baru

Materi yang disampaikan mendapat apresiasi dari para peserta.
Kiai Wahyudi dari Kabupaten Ngawi mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pengembangan pesantren.

“Saya sangat tercerahkan. Selama ini banyak lembaga yang menyimpan resep keberhasilannya, tetapi Kiai Imam Jazuli justru membagikannya secara terbuka kepada kami,” katanya.

Sementara itu, Kiai Fahmi dari Daerah Istimewa Yogyakarta menilai materi workshop sangat sesuai dengan kebutuhan pesantren saat ini.
“Materinya sangat relevan dan aplikatif. Kami mendapat banyak solusi untuk membuka peluang beasiswa ke Mesir, China, Rusia, dan berbagai negara lainnya,” ujarnya.

IJF Fokus Mendorong Transformasi Pesantren

Ketua Panitia, Ubaydillah Anwar, menjelaskan bahwa seluruh pembiayaan workshop berasal dari Imam Jazuli Foundation (IJF).

Menurutnya, IJF sejak awal memiliki komitmen dalam memperkuat kualitas pendidikan pesantren melalui program beasiswa, pengembangan dai, dan pendampingan transformasi kelembagaan.

“Transformasi bukan sekadar memperbaiki sebagian sistem pendidikan, melainkan melakukan perubahan mendasar agar pesantren mampu menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global,” jelasnya.

Ia berharap gerakan transformasi pesantren yang dimulai melalui workshop nasional tersebut mampu melahirkan semakin banyak santri Indonesia yang diterima di perguruan tinggi terbaik, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara di dunia.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi motor lahirnya generasi muslim yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan untuk membangun Indonesia di masa depan.

Pewarta : Dido