KH KRT Abdul Chalim: Gus Gudfan, Simbol Pemersatu Dinilai Layak Pimpin NU

oleh -3 Dilihat
oleh

“Memimpin NU bukan sekadar mengelola organisasi kemasyarakatan, melainkan mengawal mandat langit. Pemimpin dari Dzurriyah Walisongo membawa berkah genetika perjuangan yang mewarisi karamah, ketulusan, dan riyadhoh para wali,”

BANYUWANGI, FBN.COM – Memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia dinilai membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial, tetapi juga berakar kuat pada tradisi keilmuan, spiritualitas, dan sanad perjuangan para ulama pendiri Islam Nusantara.

Pandangan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nurul Qodiri Genteng Banyuwangi sekaligus sesepuh Pagar Nusa, KH KRT Abdul Chalim Al-Khowwas, yang menilai sosok H. Gudfan Arif Ghofur (Gus Gudfan) layak memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang.

Menurut Kyai Chalim, sosok yang saat ini menjabat sebagai Bendahara Umum PBNU itu memiliki perpaduan antara legitimasi spiritual, pengalaman organisasi, kemampuan manajerial, serta kedekatan dengan tradisi pesantren yang menjadi fondasi NU.

“Memasuki abad kedua, NU menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Karena itu, NU membutuhkan nakhoda yang tidak hanya cakap mengelola organisasi, tetapi juga memiliki jangkar spiritual yang menghujam kuat di bumi Nusantara. Pada titik inilah pentingnya menghadirkan pemimpin dari kalangan Dzurriyah Walisongo menjadi sangat relevan,” ujar KH KRT Abdul Chalim, Kamis (16/7/2026).

Legitimasi Spiritual dan Sanad Perjuangan

Dalam pandangan Kyai Chalim, salah satu kekuatan utama Gus Gudfan terletak pada garis keturunan atau sanad perjuangan yang berasal dari Dzurriyah Walisongo.

Ia menjelaskan, dalam tradisi pesantren, sanad bukan sekadar silsilah keluarga, melainkan mata rantai keilmuan, akhlak, perjuangan, dan keberkahan yang diwariskan lintas generasi.

Menurutnya, Walisongo merupakan arsitek utama penyebaran Islam Nusantara yang damai, moderat, serta mampu berdialog dengan budaya lokal. Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi berdirinya Nahdlatul Ulama oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Memimpin NU bukan sekadar mengelola organisasi kemasyarakatan, melainkan mengawal mandat langit. Pemimpin dari Dzurriyah Walisongo membawa berkah genetika perjuangan yang mewarisi karamah, ketulusan, dan riyadhoh para wali,” tutur Kyai Chalim.

Ia menjelaskan, legitimasi spiritual Gus Gudfan tidak hadir begitu saja. Gus Gudfan merupakan putra dari Prof. Dr. KH Abdul Ghofur, ulama kharismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan.

Dari garis keturunan tersebut, kata dia, mengalir sanad perjuangan yang bersambung kepada Raden Qasim atau Sunan Drajat, salah satu tokoh utama Walisongo.

“Mengalirkan darah Sunan Drajat berarti mewarisi dua karakter utama, yakni keteguhan spiritual dalam menjaga syariat sekaligus keluwesan strategi dalam memberdayakan ekonomi umat,” katanya.

Menurutnya, lingkungan pesantren dan warisan nilai-nilai Sunan Drajat telah membentuk Gus Gudfan menjadi pribadi yang memahami tradisi pesantren sekaligus mampu menerjemahkan semangat dakwah Islam Nusantara dalam konteks kekinian.

Dinilai Menjadi Poros Tengah yang Mempersatukan

Kyai Chalim juga menilai Gus Gudfan memiliki posisi strategis sebagai figur pemersatu di tengah dinamika internal NU.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan Walisongo menyebarkan Islam di Nusantara tidak terlepas dari pendekatan dakwah yang mengedepankan budaya, toleransi, dan persatuan.

Prinsip tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran) yang menjadi karakter NU, menurutnya, merupakan pengejawantahan langsung dari metode dakwah para wali.

Dalam konteks itu, ia menilai PBNU membutuhkan figur yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok dan kepentingan.

“Di tengah dinamika bursa Ketua Umum PBNU yang sering memunculkan ketegangan antarfaksi, PBNU membutuhkan sosok penyembuh, jangkar yang diterima semua pihak. Gus Gudfan hadir sebagai Poros Tengah yang transenden,” ujarnya.

Menurut Kyai Chalim, sebagai Bendahara Umum PBNU, Gus Gudfan memiliki pengalaman struktural dalam menjalankan organisasi. Di sisi lain, statusnya sebagai Dzurriyah Walisongo dan representasi pesantren membuatnya memperoleh legitimasi kultural dari kalangan kiai sepuh.

Ia menambahkan, posisi tersebut menjadikan Gus Gudfan relatif bersih dari polarisasi politik masa lalu sehingga berpotensi menjadi ruang rekonsiliasi bagi seluruh elemen Nahdliyin.

“Beliau adalah titik temu yang menyejukkan bagi seluruh keluarga besar NU,” katanya.

Melanjutkan Dakwah Ekonomi Sunan Drajat

Selain aspek spiritual, Kyai Chalim juga menilai Gus Gudfan mampu menerjemahkan ajaran sosial-ekonomi Sunan Drajat ke dalam tantangan zaman modern.

Ia mengutip filosofi Sunan Drajat yang berbunyi, ‘Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe’ atau “berilah tongkat kepada orang yang buta dan berilah makan kepada orang yang lapar.”

Menurutnya, ajaran tersebut merupakan konsep pemberdayaan masyarakat yang hingga kini tetap relevan.

“Filosofi luhur Walisongo itulah yang diterjemahkan secara modern oleh Gus Gudfan. Latar belakang beliau sebagai profesional dan pengusaha sukses menunjukkan bahwa beliau mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai dakwah ekonomi di era sekarang,” jelasnya.

Apabila dipercaya memimpin PBNU, Kyai Chalim meyakini Gus Gudfan akan mendorong sejumlah agenda strategis, antara lain memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdliyin melalui pembangunan ekosistem usaha yang mandiri, mempercepat digitalisasi dan modernisasi tata kelola organisasi secara transparan dan akuntabel tanpa meninggalkan ruh pesantren, serta memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Menjawab Tantangan Global Berbasis Islam Nusantara

Lebih lanjut, Kyai Chalim mengatakan menghadirkan pemimpin dari kalangan Dzurriyah Walisongo bukan berarti membawa NU kembali ke masa lalu, melainkan memastikan organisasi tetap berpijak pada akar sejarah ketika menghadapi tantangan global.

Menurutnya, Indonesia saat ini semakin mendapat perhatian dunia sebagai representasi Islam Wasathiyah atau Islam moderat.

Karena itu, ia menilai figur yang memiliki akar kuat dalam tradisi Walisongo sekaligus memiliki wawasan modern akan mampu membawa NU tampil di panggung internasional tanpa kehilangan identitas keislaman Nusantara.

“Menghadirkan Dzurriyah Walisongo memimpin PBNU bukan langkah mundur, tetapi strategi melompat ke masa depan tanpa kehilangan pijakan sejarah. Dengan kombinasi wawasan modern dan karisma spiritual para wali, sosok seperti Gus Gudfan layak membawa PBNU menembus panggung global,” ungkapnya.

Momentum Kembali kepada Sanad Perjuangan

Menutup pernyataannya, KH KRT Abdul Chalim mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama menjadikan momentum pemilihan kepemimpinan PBNU sebagai kesempatan untuk kembali kepada sanad perjuangan para pendiri.

Menurutnya, kepemimpinan yang berpijak pada nilai-nilai spiritual dan tradisi pesantren akan menjadi modal penting bagi NU dalam menghadapi berbagai tantangan abad kedua.

“Sudah saatnya PBNU melangkah maju menuju masa depan yang modern, mandiri, dan profesional dengan tetap membawa berkah serta menjadi poros tengah yang mampu merangkul seluruh faksi. Semoga kapal besar Nahdlatul Ulama dapat terus berlayar dengan selamat, bermartabat, dan membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkas KH KRT Abdul Chalim.

Pewarta : Dido