PNIB mengingatkan bahwa bom rakitan hanyalah muara, sementara akarnya adalah pembiaran terhadap perilaku intoleransi. Mau menumpas terorisme? Mulai dengan menindak tegas intoleransi!
FOKUS BERITA NASIONAL, FBN.COM – Terorisme dan radikalisme masih menjadi ancaman nyata di sekitar kita. Ancaman hingga ledakan bom rakitan yang terjadi di bulan Juni – Juli ini menjadi bukti aktivitas sel-sel teroris masih belum habis. Pasar dan sekolah menjadi lokasi ancaman serta peledakan bom rakitan yang dilakukan oleh kelompok radikal.
“Dari bom rakitan mantan Napiter di Tasikmalaya, ancaman bom di SDN Srengseng Jaksel hingga siswa MAN 3 Padang meledakkan bom rakitan. Semua terjadi di bulan Juli menunjukkan sebuah pola aktifitas terorisme yang terorganisir dan bukan sebuah kebetulan terjadi hampir bersamaan. Ini seharusnya menjadi catatan kewaspadaan kita semua.” ungkap AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) Ketua Umum PNIB, Sabtu (18/7/2026)
Pernyataan ketua umum ormas anti radikalisme, terorisme dan khilafah tersebut cukup beralasan. Gus Wal mengingatkan pelaku terorisme ada di sekitar kita dan memiliki agenda tersendiri dampak dari situasi bangsa yang sedang menghadapi krisis multidimensi.
“Mereka masih ada di sekitar kita, dan butuh kewaspadaan semua pihak. Mereka muncul melakukan aksinya salah satu alasannya merasakan krisis multidimensi di segala lini. Maraknya korupsi, banjir PHK dan pengangguran, kelangkaan BBM dan politisasi hukum seolah memanggil mereka untuk memperkeruh situasi.” imbuh Gus Wal
Menurut Gus Wal, cara mereka membuat bom rakitan bisa didapat di media sosial. Maraknya akun-akun radikal dari berbagai platform media sudah menjadi ancaman serius yang harus disikapi.
“Media sosial menjadi dunia penyebaran radikalisme yang paling cepat. Teroris baru tidak butuh bai’at dengan kelompok tertentu, hanya butuh rasa intoleransi dan kekecewaan yang kuat pada situasi yang ada. Selanjutnya mereka memilih jalan teroris untuk melampiaskan hasrat menghancurkan.” lanjutnya.
Gus Wal bersama PNIB mengingatkan untuk tetap menjaga kewaspadaan pada pelaku intoleransi. Masih adanya pelarangan dan penolakan ibadah yang tidak ditindak tegas, menurutnya menjadi penyubur gerakan radikalisme terorisme.
“Intoleransi yang dibiarkan berkembang akan melahirkan otak-otak radikal. Dan pada saatnya akan diwujudkan menjadi aksi terorisme. Jika ingin menumpas terorisme mulailah dengan menyikapi tegas perilaku intoleransi yang masih marak terjadi. Bom rakitan adalah muara semua aksi tersebut yang menjadi penanda intoleransi tidak dianggap menjadi ancaman yang nyata bagi kerukunan hidup sosial dan antar umat beragama”. pungkas Gus Wal.
Pewarta : Dido













