Diduga Ada Koordinasi, Warung Tramadol Lecehkan dan Tantang Wartawan Untuk Diberitakan

oleh -114 Dilihat
oleh

“Obat sekarang semakin mahal, silahkan beritakan kami tidak takut,” tantangnya.

FOKUS BERITA BOGOR, – Ramainya pemberitaan di media online terkait adanya sebuah kios di depan stasiun kereta Cilebut, yang diduga menjual obat-obatan terlarang golongan G tanpa resep dokter akhirnya langsung di respon oleh pihak Polsek Sukaraja.

Kapolsek Sukaraja,
Kompol Birman Simanulang,S.H, mangaku berterimakasih kepada awak media terkait dengan pemberitaan. Hal itu disampaikan melalui chat WA sang Kapolsek kepada wartawan.

“Terimakasih atas Infonya Pak, nanti langsung kami tindaklanjuti Pak,” jawab Kompol Birman, Minggu (5/5/24).

Dirinya juga berjanji, akan menindak tegas pada pelaku yang masih nekat menjual obat-obatan keras tanpa izin edar tersebut.

“Siap, tadi sudah langsung dicek anggota Polsek dan akan kita tindak jika masih buka Bang,” tegasnya.

Sebelumnya, berdasarkan informasi dari keresahan warga, awak media pada hari Sabtu (4/5-2024), mencoba melakukan Investigasi kelapangan terkait dugaan adanya sebuah kios di depan stasiun kereta Cilebut yang menjual obat-obatan keras jenis tramadol dan hexymer tanpa izin edar.

Al’hasil, ternyata informasi tersebut benar adanya. Team media pun mendapati adanya sebuah kios dengan posisi rolling door terbuka cuma kurang lebih 15cm dan, didepan terlihat ada beberapa kalangan remaja yang terlihat antri untuk membeli.

Team media lalu coba untuk mengkonfirmasi, kepada seseorang yang berada di dalam kios tersebut. Namun hebatnya, pria tersebut malah terkesan arogan dan melecehkan tim awak media dengan nada menantang.

“Obat sekarang semakin mahal, silahkan beritakan kami tidak takut,” tantangnya.

Ironis memang, dengan adanya fenomena tersebut. Sepertinya, para penjual obat-obatan terlarang golongan G tanpa resep dokter itu terkesan sangat berani menantang awak media.

Bisa jadi, bukan hal mustahil jika keberadaan warung itu sudah terkoordinasi dengan pihak-pihak terkait sebagaimana sinyalemen yang beredar di masyarakat.

“Kalau gak ada koordinasi, mana mungkin berani bang. Buktinya mereka nantang tidak takut diberitakan. Itukan sama saja artinya dia tidak takut dilaporkan!” ungkap salah seorang warga (narasumber) yang tidak mau disebutkan namanya. (Tim/R3d)